Spread the love

Pakar Bedah Saraf Prof. Dr. dr. Asra Al Fauzi, Sp.BS., Subsp.N-Vas(K)., S.E., M.M., FICS, FACS, IFAANS menjadi salah satu narasumber utama dalam Indonesian Brain Forum 2026 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (FK UPNVJ), Selasa (4/8/2026), di Ruang Baca Fakultas Kedokteran, Gedung Cipto Mangunkusumo.

Mengusung tema “Brain and the Future of Indonesia: Bagaimana Neurosains Membentuk Pendidikan, Kepemimpinan, Inovasi, dan Peradaban Indonesia”, forum ini mempertemukan akademisi, praktisi, peneliti, tenaga kesehatan, mahasiswa, serta masyarakat untuk mendiskusikan perkembangan ilmu neurosains dari berbagai perspektif. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan bedah buku The 7 Laws of the Brain sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi masyarakat mengenai ilmu otak.

Dalam paparannya, Prof. Asra menyoroti pentingnya pengambilan keputusan klinis (clinical decision making) dalam praktik kedokteran modern, khususnya di bidang bedah saraf. Menurutnya, keputusan klinis yang tepat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis seorang dokter, tetapi juga didukung oleh pemahaman ilmiah yang kuat, analisis yang komprehensif, serta kemampuan mengintegrasikan bukti ilmiah dengan kondisi individual setiap pasien.

Beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam pelayanan bedah saraf. Pemanfaatan pencitraan medis mutakhir, navigasi bedah, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga teknologi digital semakin membantu tenaga medis dalam meningkatkan akurasi diagnosis, perencanaan tindakan, serta keselamatan pasien. Namun demikian, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung pertimbangan klinis seorang dokter, bukan menggantikannya.

Prof. Dr. dr. Asra Al Fauzi, Sp.BS., Subsp.N-Vas(K). menyampaikan mengenai pengambilan keputusan klinis dan perkembangan bedah saraf modern dalam Indonesian Brain Forum 2026 di FK UPNVJ

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Asra juga menekankan bahwa perkembangan neurosains harus diimbangi dengan penguatan aspek etika, komunikasi, dan empati dalam pelayanan kesehatan. Menurutnya, seorang dokter dituntut mampu mengombinasikan kecanggihan teknologi dengan pendekatan yang berpusat pada pasien (patient-centered care) agar setiap keputusan medis memberikan manfaat terbaik bagi pasien.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat umum. Berbagai pertanyaan mengenai tantangan bedah saraf modern, pemanfaatan teknologi dalam dunia medis, hingga masa depan pendidikan kedokteran menjadi bagian dari sesi diskusi yang memperkaya wawasan peserta.

Melalui Indonesian Brain Forum 2026, FK UPNVJ kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan forum ilmiah yang mempertemukan para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kehadiran Prof. Asra diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa, tenaga kesehatan, maupun akademisi untuk terus mengembangkan kompetensi dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang semakin kompleks di era kemajuan teknologi.

× Ada yang bisa dibantu?