Sebagai upaya mendukung penyelenggaraan uji kompetensi apoteker yang terstandar dan objektif, Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPAPP) Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta mengirimkan 2 orang dosen yang dihadiri oleh apt. Andiri Niza Syarifah, M.Farm., dan apt. Fransiskus Samuel Renaldi, M.Farm., M.B.A. sebagai perwakilan untuk mengikuti Pelatihan Penguji Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Apoteker yang diselenggarakan pada 29–30 Mei 2026 di Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pelita Harapan (UPH).
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Pelita Harapan dan Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) yang diikuti oleh 24 peserta dari berbagai institusi pendidikan farmasi di Indonesia. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan kesiapan penguji dalam melaksanakan OSCE sebagai salah satu metode penilaian kompetensi calon apoteker yang terstandar, objektif, dan mampu menggambarkan keterampilan praktik secara komprehensif.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber berpengalaman dari tim Penyelia Pusat, yaitu Dr. apt. Catur Jatmika, M.Si., Dr. apt. Afrillia Nuryanti Garmana, S.Si., M.Si., dan Dr. apt. Dika Pramita Destiani, M.Farm. Para peserta memperoleh pembekalan melalui berbagai sesi yang mencakup konsep OSCE sebagai uji kompetensi, penyusunan blueprint dan template soal ujian OSCE, peran dan tanggung jawab penguji, hingga standard setting dalam penilaian OSCE.

Pada sesi pembelajaran, peserta mendapatkan pemahaman bahwa OSCE merupakan bentuk uji petik berbasis simulasi yang dirancang untuk mengukur kompetensi calon apoteker secara objektif dan terstruktur. Oleh karena itu, kompetensi penguji menjadi salah satu faktor penting dalam menjamin mutu pelaksanaan ujian.
Selain itu, peserta juga mendalami pentingnya blueprint dan template soal OSCE sebagai landasan penyusunan station ujian. Dalam pelaksanaannya, setiap station diharapkan mampu menilai sedikitnya tiga area kompetensi yang relevan dengan capaian pembelajaran profesi apoteker. Pemahaman terhadap desain station yang baik diharapkan dapat meningkatkan validitas dan reliabilitas penilaian.
Materi lainnya menyoroti persyaratan yang harus dipenuhi oleh penguji OSCE serta kesiapan institusi penyelenggara dalam menjamin kualitas pelaksanaan ujian. Penguji dituntut memiliki pemahaman yang memadai terhadap skenario, instrumen penilaian, dan standar kompetensi yang diukur pada setiap station.
Pada hari kedua, peserta mengikuti simulasi dan observasi pelaksanaan ujian OSCE yang melibatkan proses briefing, mobilisasi peserta, pelaksanaan ujian pada beberapa putaran, hingga refleksi dan evaluasi kegiatan. Melalui pengalaman tersebut, para peserta memperoleh gambaran langsung mengenai alur penyelenggaraan OSCE yang sesuai standar nasional yang diharapkan dapat menjadi bahan belajar untuk mahasiswa kedepannya.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah sistem penilaian OSCE. Para peserta dibekali pemahaman mengenai penggunaan rubrik penilaian yang objektif dan konsisten untuk meminimalkan variasi antar penguji serta memastikan hasil penilaian yang adil bagi seluruh peserta ujian.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat berkontribusi dalam penyelenggaraan OSCE yang berkualitas, sekaligus mendukung peningkatan mutu pendidikan profesi apoteker di Indonesia. Kompetensi penguji yang baik akan menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan lulusan apoteker yang kompeten, profesional, dan siap memberikan pelayanan kefarmasian yang optimal kepada masyarakat.


