• Pilih Bahasa :
  • indonesian
  • english

Beranda Ramadhan : "MENAHAN MAKAN UNTUK MENJADI TAKWA. BISAKAH?"

  • Terakhir diperbaharui : Kamis, 15 April 2021
  • Penulis : Vantry Rio Aprian
  • Hits : 173

IMG_4506_-_Copy.jpg

Dr.dr.H.Taufiq Fedrik Pasiak, M.Kes,M.Pd.I
Selasa, 13 April 2021, adalah 1 Ramadhan 1442. Kaum muslimin menyambut bulan ini dengan penuh semangat. Meski ada macam macam motivasi; mulai dari menguruskan tubuh, menghemat ongkos dapur, hingga belajar mengendalikan diri. Namun, alasan ibadah pada Allah menjadi alasan utama.
Puasa dilakukan juga oleh umat yang lain. Meski dengan motif dan tatacara yang berbeda. Satu hal yang menyamakan; puasa bermaksud mendidik jiwa untuk dapat mengendalikan diri. Puasa mendidik jiwa dengan lebih dulu mengendalikan nafsu makan minum  merupakan pokok bahasan menarik dalam agama dan sains. Para ahli agama menyebutkan bahwa puasa itu adalah sarana untuk mendidik jiwa (tarbiyatun Nafs) dan menumbuhkan jiwa (tazkiyatun Nafs) menjadi lebih baik lagi. Agama memberi petunjuk bahwa menahan diri terkait makanan dapat berkontribusi dalam kualitas tertinggi berjuluk taqwa; “Berpuasalah agar kamu menjadi takwa” (QS.al-Baqarah: 183). 
Mengutip ulama sastrawan Prof.Hamka dalam tafsir al-Azhar-nya, takwa diambil dari rumpun kata wiqayah yang berarti memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah SWT. Memelihara jangan sampai terperosok kepada perbuatan yang tidak diridhai-Nya. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan terperosok ke tempat yang penuh lumpur atau duri. Penjelasan Hamka itu mengutip ilustrasi dari Abu Hurairah Ketika ditanya makna takwa. “pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau mendapati jalan itu penuh dengan duri? Bagaimana tindakanmu melewatinya?. Orang yang ditanya menjawab, “apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu atau aku mundur.” Seketika Abu Hurairah berkata, “itulah dia takwa” (HR Ibnu Abi Dunya)
Memiliki kualitas jiwa yang tinggi itu (takwa) dengan jalan menahan makan, hal yang sepenuhnya fisik, apakah mungkin? Wah, ini luar biasa dan isu menarik. Menjelaskan bagaimana korelasi antara kegiatan fisik (physical training) dengan jiwa dan spiritualitas merupakan pokok menarik. Umumnya kegiatan fisik ya untuk fisik saja. Atau sejauhnya, ya untuk sedikit kesehatan mental. Tidur misalnya. Meski sepenuhnya fisik, tetapi ada efek bagi kesehatan mental, misalnya membuat mood dan kognisi menjadi lebih baik. Mereka yang tidur dalam waktu yang cukup memiliki Kesehatan mental yang bagus. Penelitian acak terkontrol memberikan bukti kuat bahwa sulit tidur alias insomnia merupakan faktor penyebab terjadinya pengalaman psikotik dan masalah kesehatan mental lainnya (Freeman D dkk, 2017). Olahraga juga punya efek Kesehatan mental. Mereka yang berolahraga dengan teratur umumnya memiliki mood dan kognisi yang lebih bagus.  Namun, apakah tidur dan olahraga bisa membuat seseorang memiliki kualitas tinggi seperti kualitas takwa itu? 
Sependek pengetahuan saya, tidak ada ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa tidur dan olahaga dapat membuat seseorang menjadi takwa. Pun, belum ada penelitian membuktikannya. 
Tidur dan olahraga betul membuat sehat fisik dan mental, tetapi tidak membuat seseorang terpelihara jiwanya dari perbuatan buruk dan tercela, dari dosa dan pelanggaran. Tidak bisa membuat seseorang menjadi takwa. Namun, menurut ayat di atas, mengatur makan dan minum dapat membuat seseorang menjadi takwa. Mengapa bisa begitu? Dalam soal makan dan minum (dan seks) ada aspek pengendalian diri (self control) di situ. Pengendalian diri merupakan sebuah kemampuan unik dimana kita mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang dapat kita peroleh dan memberi kepuasan untuk saat ini demi suatu tujuan jangka panjang yang lebih penting.
Makan dan pengendalian diri disebutkan dalam 1 ayat al-Qur’an; “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan,” (QS. Al A’raf: 31). Ibnu Katsir dalam dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan  ayat di atas itu; “Sebagian salaf berkata bahwa Allah telah mengumpulkan semua Ilmu Kedokteran pada setengah ayat ini”. Bagaimana makan bisa mengajari pengendalian diri? Menurut sejumlah penelitian, karena makan berkaitan dengan godaan. Makanan bisa menggoda kita sehingga, bisa membuat pengendalian diri diuji sedemikian rupa. Mereka yang tidak bisa menahan godaan makanan cenderung memilih makanan tidak sehat. Kendali diri mereka tidak cukup bagus. Karena itu, menahan godaan terhadap makanan dapat menjadi cara untuk belajar mengendalikan diri. 
Penelitian Stillman P dkk (2017) mengungkapkan bahwa orang yang memilih makanan tidak sehat daripada makanan sehat secara real time, memiliki pengendalian diri yang lebih rendah dalam menahan godaan. Ini berlaku sebaliknya, mereka yang memiliki tingkat pengendalian diri yang lebih tinggi cenderung lebih memilih makanan sehat dan karena itu tahan godaan.  Godaan adalah keinginan yang bertentangan dengan tujuan. Kita ingin makan coklat, tetapi kita sedang berdiet, maka keinginan makan coklat akan menjadi godaan. Keinginan yang semula positif itu bisa berubah menjadi godaan ketika kita dihadapkan pada rencana yang kita susun sendiri.  jika kendali diri atas godaan makanan bisa kita atasi, maka satu langkah penting menghadapi godaan godaan lain. 
Mampu menghadapi godaan dapat membuat seseorang tidak mudah terjerumus dalam hal-hal yang buruk. Ini, antara lain dibuktikan oleh Ahli psikologi Walter Mischel (1969), yang menemukan bahwa anak-anak yang bisa mengendalikan diri mereka ketika disodori permen (sebagai godaan) memiliki masa depan yang lebih cerah, baik kehidupan sosial, pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Mereka yang memiliki pengendalian diri (terhadap cobaan), menurut ahli psikologi Martin Seligman (2002), dapat mencapai sukses di masa mendatang. Pengendalian diri dapat menjadi prediktor penting kehidupan masa depan seseorang. 
Itulah mengapa al-Qur’an menggunakan ‘jalur’ makanan untuk menjadi takwa. Menahan godaan makan dan minum—padahal kita bisa saja makan dan minum—akan melatih sistem pengendalian diri di otak. Kendali diri yang terlatih menjadi kunci agar tidak terjerumus dalam hal-hal buruk, juga menjadi kunci melihat sesuatu yang lebih baik meski itu bukan saat ini.

Pondok Labu, Cilandak 15/04/21
*Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta.

Informasi

Newsletter

Daftar sekarang untuk menerima berita terkini, lowongan kerja, dan informasi lainnya.

Follow Us On

f